Rabu, 28 Oktober 2015

Kersen AKA Keres AKA Talok dan Cerita Hidup

Apa buah kesukaanmu? Mungkin banyak orang akan menyebut durian, kiwi, strawberry dan buah lainnya. Jika pertanyaan itu terlontar padaku, jawabannya tergantung masanya. Jika saat ini menggilai rambutan, tidak dengan puluhan tahun lalu. Akhir 80-an (tua banget...hiii), buah yang paling kuburu adalah kersen AKA keres AKA talok.
Masih mengenal buah ini? Generasi 2000-an mungkin sudah jarang yang mengetahuinya. Tetapi, bagiku dan teman-temanku kala itu, ceritanya jauh berbeda. Demi buah berwarna merah mungil ini, kami harus rela gotong royong untuk menikmati manisnya.
Untuk anak yang masih duduk di bangku SD, bukan perkara mudah memanjat pohon kersen setinggi sekitar lima meter. Banyak anak-anak perempuan yang pasti tak bisa. Untuk bisa menikmati buah sepanjang masa ini, kami harus mengajak anak laki-laki sebagai tenaga pemanjat.
Biasanya, perburuan kersen yang tumbuh liar di halaman atau kebun tetangga ini dilakukan setelah kami puas bermain di halaman. Rasa dahaga membuat anak laki-laki yang memang lihai memanjat ini langsung mengiyakan ajakan anak-anak perempuan.
Jika laki-laki bertugas memanjat, anak perempuan yang kebagian menangkap buah di bawah. Kersen yang kami dapat dikumpulkan di satu gelas bekas air mineral. Jika sudah penuh satu gelas, biasanya para pemburu itu baru turun ke bawah.
Jangan dibayangkan jika buah kersen yang kami dapat semuanya berwarna merah alias matang sempurna. Kersen yang berwarna hijau kekuningan alias kersen yang belum begitu matang pun kami ambil. Jika hanya mencari yang merah, tak banyak buah yang bisa dipanen. Sebab, perburuan buah dilakukan tiap hari. Dengan jumlah anak yang banyak pula.
Karena sudah sering mencari buah kersen, tangan anak laki-laki itu sudah lihai memilah mana buah yang siap panen dan mana yang belum. Termasuk, buah kersen berwarna hijau kekuningan yang matang dan yang belum.
Bagaimana membaginya?  Karena tak semua kersen yang kami dapat berwarna merah alias matang sempurna, tahap ini bukanlah hal yang mudah. Salah sedikit, teman-teman bisa marah. Merasa diperlakukan tidak adil. Lelah yang sama tapi tak mendapat bagian yang sepadan.
Biar semua bisa menerima, kamipun mengelompokkan warna buah kersen yang didapat. Misalnya, kersen berwarna merah tua atau kersen yang paling matang (paling tidak aku suka karena terlalu manis), dikelompokkan bersama kersen dengan warna serupa.
Demikian juga dengan kersen berwarna merah segar atau hijau kekuningan. Tiap kelompok dihitung berdasar jumlah kru yang ikut berburu. Jika ada lima anak yang ikut, berarti buah harus dibagi di tiap kelompok warna masing-masing lima.
Pada bagian akhir, selalu ada kelompok buah yang warnanya tak sama. Ada buah merah tua, merah muda hingga  yang hijau. Pembagian kelompok ini yang paling seru.
Untuk menentukan siapa yang berhak mengambil warna merah atau buah yang matang, kami ramai-ramai melakukan suit atau gambreng. Yang menang, otomatis berkesempatan memilih buah lebih dulu. Sedangkan yang kalah harus terima mendapat buah yang berwarna hijau.  Toh rasanya tetap ada manisnya. Meski kadang bercampur sepet karena memang belum matang sempurna.
Mengenang kebiasaan puluhan tahun lalu itu, rasanya ingin sekali kembali ke sana. Kembali ke gembira, suka ria bersama teman-teman sebaya. Sedikit pertengkaran adalah hal yang biasa. Bahkan, cakar-cakaran hingga wajah salah satu teman berdarah.
Tapi toh, seperti khas anak-anak, semuanya akan kembali baik dalam beberapa hari ke depan. Semua akan kembali ceria. Larut dalam kesenangan bermain bersama.
Melihat realita elite, realita pergaulan masyarakat sekarang yang diwarnai dengan sejumlah permasalahan pelik,  ingin sekali membawa mereka kesana. Belajar pada pola pergaulan anak-anak kala itu.
Setidaknya, anak-anak kala itu sudah menerapkan prinsip keadilan dengan membagi rata hasil kersen yang didapat. Untuk bagian terakhir, mereka juga bisa menerapkan keadilan dengan memberi kesempatan pada yang menang suit untuk mengambil lebih dulu. Adapun yang kalah harus berbesar hati menerima.
Apakah tak ada strategi saat melaksanakan suit? tentu saja ada. Anak yang bisa cermat melihat bahasa tubuh lawan akan bisa menebak jari mana yang akan diacungkan. Dalam waktu cepat, si anak juga bisa berpikir untuk mengeluarkan jari tandingan agar menang.
Tak semua anak secerdik itu. Jika kalah pun mereka akan tetap menerimanya. Apalagi, dari banyak buah kersen yang didapat, mereka hanya akan mendapat satu atau dua buah yang kurang matang. Selebihnya, mereka sama-sama menerima buah yang merah. Buah yang sama manis  dan segar.
Apakah pola yang sama bisa diterapkan para elite sekarang? Jika kita lihat, mereka hanya sibuk bertengar. Sibuk adu kuat untuk mendapatkan yang paling banyak. Sibuk membodohi temannya agar bisa lebih kaya.
Mungkin sudah saatnya kita memaksa mereka untuk belajar pada anak-anak. Bukahkah berguru tidak harus pada orang yang lebih tua? Apalagi jika ternyata orangnya mulai pikun justru akan berbahaya. (*) 




Selasa, 11 November 2014

Tentang Kamu November yang gado-gado. November yang seharusnya menggembirakan, berubah jadi menyesakkan karena kamu Nggak terasa sudah delapan tahun berlalu. Rasanya masih seperti kemarin. Luka itu, perih itu, tetap saja sama. Pusaramu yang sudah kering, berdebu, bahkan mulai usang tak bisa jadi pertanda Maafkan aku le, maaf jika hanya bisa mendatangimu setiap ramadan. Maaf tak menjengukmu setiap akhir pekan Bagi kami, kau tetap ada di rumah. Bagi kami kau tetap di sana. Bersama-sama. November milikmu. November penuh dengan kenanganmu Sampai kapanpun kami tak akan pernah bisa menghapusmu. Kamu hidup dalam benak kami. Kamu selalu ada dalam pikiran kami Dalam setiap ingatanku aku selalu berharap kau bisa tahu, betapa berharganya kamu bagi kami Betapa istimewanya setiap kebersamaan yang sudah dilalui Dimanapun kamu kini, bagi kami kau tetap disini........